Demografi Penduduk

Kondisi Demografis dan Monografi Desa Cangkringan

Perkembangan Kabupaten Boyolali dalam lima tahun terakhir telah menunjukkan perubahan yang signifikan dan dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat Boyolali. Keberadaannya saat ini tentunya membuat bangga bagi seluruh warga Boyolali, sehingga tidak merasa malu jika ditanya asal atau domisili oleh orang lain.

Desa Cangkringan merupakan salah satu dari 15 Desa yang ada di  wilayah Kecamatan  Banyudono terletak tidak jauh dari Ibu Kota kecamatan. Desa Cangkringan memiliki batas wilayah dengan Desa Banyudono di wilayah Utara, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Jembungan, Desa Kuwiran di sebelah Timur dan Desa Ngaru-aru di sebelah Barat.        

Desa Cangkringan berjarak 10 kilometer pusat pemerintahan Kabupaten. Jarak pusat pemerintahan Desa Cangkringan dengan Semarang sebagai ibu kota Provinsi berjarak 85 kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam perjalanan darat. Desa Cangkringan memiliki luas sebesar 18.0079 Ha

Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Jumlah penduduk Desa Kacangan pada tahun 2013 sebanyak 2344 Jiwa, Penduduk Desa Cangkringan mayoritas dalam rentan usia 25-55 tahun dengan jumlah 1112 orang. Dalam bentuk tabel, desa Cangkringan memiliki jumlah penduduk sebagai berikut:

0 - 6 tahun

:

204

7 - 12 tahun

:

206

13 - 18 tahun

:

212

19 - 24 tahun

:

198

25 - 55 tahun

:

1112

56 - 79 tahun

:

384

80 tahun ke atas

:

28

Desa Cangkringan sebagai salah satu desa yang berada pada Kecamatan Banyudono ini memiliki luas wilayah sebesar  18.0079 Ha. Desa Cangkringan secara adminitratif memiliki 2 kawasan dusun yang terbagi menjadi 4 wilayah RW dan 16 wilayah RT. Dalam bentuk tabel,  berikut profesi penduduk Desa Cangkringan:

Petani Pemilik Lahan

77

Petani Penggarap Lahan

151

Buruh Tani

130

Pengusaha Sedang/Besar

4

Pengrajin/Industri Kecil

31

Buruh Industri

551

Buruh Bangunan

59

Pedagang

127

Pengangkutan

16

Pegawai Negeri Sipil

73

ABRI

14

Pensiunan (ABRI/PNS)

31

Peternak Sapi biasa

6

Peternak Kerbau

6

Peternak Kambing

42

Peternak  Ayam

650

Peternak  Itik

12

 

 


Topografi dan Pertanian

Desa Cangkringan memiliki jenis tanah yang pada umumnya termasukjenis ALUVIAL,  jenis tanah ini cukup sesuai untuk kegiatan pertanian namun cukup labil, sehingga mengakibatkan banyak jalan di Desa Cangkringan yang cepat rusak.

Desa Cangkringan memliki karakteristik lingkungan berupa dataran rendah dengan lingkungan basah dan kering.  Karakter lingkungan wilayah ini mempengaruhi jenis usaha pertanian tanaman pangan, dengan pengembangan pada lingkungan  :

a. Tanah Basah  : Yaitu upaya pengembangan usaha pertanian yang betul-betul modern dengan mengembangkan penggunaan pupuk organic, sehingga Desa Cangkringan mampu memberikan kontribusi terhadap Negara dalam swadaya beras secara nasional.

b. Tanah Kering : Yaitu sangat Cocok untuk pengembangan pertanian tanaman pangan lahan kering, khususnya palawija.

Sedangkan untuk permasalahan lingkungan hidup yang cukup mencolok yaitu dengan keberadaan peternakan ayam potong (Broiler) dan pengembangan ikan air tawar ( jenis lele ) , yang lokasinya sebagian sangat dekat dengan lokasi pemukiman penduduk. Walaupun selama ini masalah pengaruh polusi ( bau ) dan lalat masih terkendali, namun yang perlu perhatian khusus dalam pengendaliannya sehingga benar-benar tidak akan mengganggu masyarakat dan lingkungan sehingga semuanya bias tertangani dengan baik.

Desa Cangkringan terdiri dari 2Dusun yang masing –masing terdiri RW dan RT, berikut tabel wilayah desa Cangkringan, 

a)Kadus I        : RT 01/01 s/d RT 08/02

b)Kadus II      : RT 09/03 s/d RT 16/04

Kondisi Sosial Budaya

Pola sosial yang sekarang berkembang diwilayah Desa Cangkringan adalah kehidupan masyarakat pedesaan. Dalam struktur ini, budaya dan nilai-nilaii tradisi masih terjaga. Masyarakat diwilayah Desa Cangkringan mempunyai sifat untuk bergotong-royong dan kesetia kawanan yang tinggi. Disamping masyarakat yang dikenal mempunyai kesetiaan, loyal kepada pimpinan baik ditingkat RT,RW, Desa ataupun sampai komunitas tingkat Nasional. Sifat dan jiwa semacam itu merupakan bagian peran serta masyarakat dalam pembangunan sehingga hal ini sebagai modal yang besar bagi efisiensi dan produktifitas yang lebih terarah, terencana dan terpadu untuk bersama-sama dalam pelaksanaan pembangunan disegala bidang diwilayah Desa Cangkringan. Aspek Pemberdayaan masayarakat (Community Empowering),khususnya masyarakat local harus menjadi prioritas dalam pengembangan sosial budaya masyarakat.

Proses Pemberdayaan Masyarakat yang utama adalah mengembangkan dan mempertahankan setiap partisipatif masyarakat dalam proses pembangunan. Artinya dalam proses pembangunan ada perubahan Stake holder ( pihak yang berkepentingan ) dimana aktor utama pembangunan dulunya pemerintah, dan sekarang dikembangkan yang menjadi aktor utama pembangunan adalah masyarakat. Pemerintah harus menjadi fasilitator bagi lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang ada.

Berita Terkini
Lima Ribu Untuk Kesehatan
Selasa 16 Mei 2017